Wawasan Pancasila Yudi Latif

Menumbuhkan Cinta Pancasila

Sebagai dasar negara, Pancasila sudah selayaknya dipertahankan dan dipelihara. Pertanyaan lantas muncul belakangan ini apakah kesaktiannya masih bisa diandalkan ditengah arus globalisasi dengan beragam ideologi yang memboncenginya? Di sisi lain, penulis juga mengakui ada jurang lebar antara identitas Pancasila dan realitas pembumiannya. Jurang itulah yang menjadi sumber krisis kebangsaan sekarang.

Kehidupan kebangsaan sekarang diliputi cuaca kebatinan dengan megamendung kerisausan, pertikaian, dan penggelapan. Sulit menemukan bintang penuntun yang menerbitkan kesamaan titik temu, titik tumpu, dan titik tuju. Visi kebangsaan ibarat cermin kebenaran yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap pihak hanya memungut satu kepingan, lantas memandang kebenaran menurut bayangannya sendiri. Rasa saling percaya pudar dan bhineka warna sulit menyatu.

 

Yudi Latif mengajak menempatkan Pancasila sebagai bintang penuntun

 

Merebaknya kekerasan bernuansa agama merupakan kecenderungan pemahaman, penghayatan, dan pengamatan ketuhanan pada sila pertama yang tak berkebudayaan. Penulis pun menganggap pengamatan tersebut tidak memijarkan semangat rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi sebagian alam). Modus beragama berhenti sebagai formalisme peribadatan. Tidak ada lagi kemampuan untuk menggali nilai-nilai spiritual dan moral. demikian dengan sila persatuan. Sikap hidup berkedampingan dengan damai dan produktif lewat perdampingan lintas kultural yang seharusnya menjadi kultur kita sebagai bangsa yang plural kini memudar. Kita menghadapi praktik-praktik homogenisasi dan sentralisasi budaya politik. Ada pergaulan yang terhambat sehingga kita terjebak dalam kepompong ras, etnik, agama masing-masing secara ekslusif.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, Wawasan Dasar Ideologi Pancasila, memaparkan wawasan kesejarahan, wawasan konseptual, wawasan yuriudis, wawasan visi dan misi, dan wawasan implementatif. Wawasan Kritik Ideologi Pancasila, memberikan uraisan soal globalisasi, dan kritik ideologi pancasila. Bagian ketiga, Wawasan Pembudayaan Pancasila, membahas kritik sosial, usaha sengaja membudayakan Pancasila, pendidikan sebagai tumpuan pembudayaan, pendidikan karakter, persoalan pendidikan karakter, cita integritas, cita gotong royong, dan cita etos kerja. Dia menganggap judul buku ini sebagai cara pandang dalam memahami hakikat kehidupan kenegaraan dan kebangsaan. Adapun bintang penuntun adalah istilah yang sering disematkan pada Pancasila sebagai panduan dinamis yang memberi arah hidup dalam pembudayaan menjadi Indonesia.

Demi mempertahankan karakter pancasila sebagai karakter bersama, penulis pun menawarkan pendekatan yang holistik, Pancasila ditempatkan sebagai bintang penuntun yang dinamis dalam merespons dinamika sosial dan global yang kain kompleks.

 

Diresensi Oleh:
M.Ivan Aulia Rakhman
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya

Dimuat di Serikatnews.com

Tinggalkan Balasan