Review Buku : #MO Sebuah Dunia Baru Yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham

Review Oleh Heru Yulian

Pernahkah kamu berpikir seberapa kuat sosial media bisa mempengaruhi dunia? seberapa kuat pengaruh kata-kata yang diucapkan oleh para influencer terhadap masyarakat? atau apakah sebuah tagar bisa membuat seisi negara kalang kabut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah menjadi pernyataan seiring dengan berjalannya waktu. Apakah kamu ingat dengan tagar #Aksi212? atau tagar #SaveAudrey?. Tagar-tagar tersebut membuktikan bahwa peran sosial media sangat besar dalam mempengaruhi dinamika yang ada di masyarakat.

Nah untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, seorang ilmuwan updated indonesia Prof. Rhenald Kasali, Ph.D ternyata sudah menuangkan gagasannya dalam sebuah buku masterpiece berjudul #MO:  Sebuah Dunia Baru Yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham

Apa sih isi buku #MO ?

Buku ini dimulai dengan kata “Gagal Paham”. Ya, setiap ada penemuan baru pasti ada saja orang-orang yang gagal paham akan hal tersebut. Tidak jarang juga mereka mengecam hal baru tersebut karena mereka masih nyaman dengan kebiasaan lama. 

Nah, gagal paham yang dimaksud dalam buku ini adalah dunia modern yang terkejut dengan hadirnya platform. 

Kamu tau GOJEK atau GRAB? mungkin sebagian besar dari kita sudah mengetahuinya atau bahkan sudah menjadi pelanggan setia mereka. Tapi apakah kamu tau kenapa kehadiran mereka bisa membuat terjadinya gagal paham? itulah yang dibahas di buku masterpiece yang satu ini.

#Oldpower sebutan dari mereka yang gagal paham akan kehadiran platform adalah sekelompok perusahaan atau organisasi yang menjalankan model bisnis yang sudah usang atau obsolete. Eksistensi mereka kian terdisrupsi oleh gencarnya serangan model bisnis baru yang dimiliki platform.

Buku ini benar-benar out of the box dalam memandang situasi bisnis yang terjadi di abad ke 21 ini. 

Saya terkejut ketika pernyataan “The End of Accounting” dilontarkan. Seolah apa yang saya pelajari di kampus akan menjadi sia-sia dengan dimulainya era baru yang disebut #MO ini. 

Prof. Rhenald Kasali memaparkan bahwa akuntansi yang sudah mengakar di sistem koporasi sejak pertama kali dikembangkan oleh Lucas Pacioli pada tahun 1494 ternyata sudah tidak berdaya lagi di masa kini. Ia sudah tidak relevan lagi dalam menangkap value creation bisnis platform serta laporan keuangan dari bisnis yang memiliki network effect value.

Pembaca seolah dihadapkan pada masalah yang benar-benar akutal dan nyata karena memang kita sudah sangat terbiasa dengan kehadiran platform.

Tidak hanya itu, buku ini juga menyadarkan para pembaca yang mungkin juga sebagian besar adalah para eksekutif korporasi bahwa “The Main” atau sumber pendapatan is no longer the main. Dan lagi-lagi, pernyataan itu seakan menampar keras karena memang itulah yang terjadi. Sebut saja perusahaan surat kabar yang sudah kehilangan pendapatan dari iklannya karena sebagian besar perusahaan sudah beralih ke iklan di sosial media.

Bukan hanya sumber pendapatan, the main juga berhubungan dengan cara atau metode. Misalnya marketing, ilmu marketing seakan sudah menjadi bekal yang sangat wajib dikuasai oleh para pengusaha agar usahanya dapat berkembang. Namun kini kita bisa mengucapkan selamat tinggal kepadanya, pasalnya the main is no longer the main. Marketing kini sudah diganti dengan metode baru yang benar-benar serba teknologi yaitu Mobilisasi dan Orkestrasi, yap #MO.

Kamu tau kenapa suatu hal yang dulunya dianggap sepele tapi bisa viral? bagaimana bisa peristiwa orang utan yang ditembak di subussalam bisa diketahui oleh masyarakat seluruh indonesia bahkan sampai mengguncang dunia eropa? bahkan peristiwa itu semakin viral saat tagar #Saveorangutan mencuat di sosial media dan pihak-pihak tertentu memanfaatkan peristiwa itu untuk mematikan industri sawit nasional. Ya, mereka menyalahkan manusia yang menebang hutan demi sawit. Bagaimana bisa sebuah tagar  #OrangutanFreedom bisa membuat seisi eropa menjadi membenci produk sawit Indonesia dan menggempur habis-habisan kuota keran impor minya sawit mereka.

Sekali lagi, ternyata cara menjadi pemenang sudah berubah. Buku ini mengajarkan kita bahwa pemenang bukanlah mereka yang punya aset raksasa dengan cabang dimana-mana. Seorang pemenang di era #MO ini adalah mereka yang mampu menjadi pemiliki panggung yang dimana panggung tersebut berisi berbagai komponen baik itu produsen, konsumen dan stake holders lainnya. 

Anda akan benar-benar berhasil paham jika membaca buku yang satu ini. Saya ingin mengatakan bahwa buku ini berhasil mendeliver data-data yang aktual serta teori-teori yang relevan menjadi sebuah argumen nyata bahwa dunia sedang bergerak ke sebuah era yang benar-benar baru.

Cover Buku

Don’t judge something by it cover. Seperti itulah agagium yang sudah sangat mainstream di telinga kita. Namun untuk buku yang satu ini kamu bisa mengharapkan banyak hanya dengan melihat sampul depan dan belakangnya.
Why? jika kamu melihat kata-kata yang ada di belakang maka kamu akan langsung mengetahui apa yang buku ini coba pahamkan. Kamu seperti tersadar dengan kasus-kasus yang disinggung dan menggelitik rasa penasaran untuk membacanya lebih lanjut.


Dan benar, setelah membaca lebih lanjut rasa penasaranmu benar-benar terobati. Pokoknya masterpiece lah.
Disain cover buku ini terlihat elegan dan mencermin kekayaan intelektual di dalamnya. Namun sayang, warna putih yang dominan di buku ini membuatnya mudah kotor sehingga perlu di sampul plastik terlebih dahulu.

Fitur Terbaik Buku #MO

Bagian terbaik dari buku ini adalah tersedianya bagan, grafik hingga foto dokumentasi yang tertata rapi sehingga menimbulkan kesan yang positif bagi para pembaca.Kamu juga akan diajak berpikir dengan beberapa pertanyaan serta latihan. Sebuah fitur yang jarang terdapat di buku lainnya karena terlalu fokus memberikan gagasannya sendiri.

Setiap bab yang kamu baca pasti akan selalu diselipkan kasus yang update agar bisa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi saat ini dan kehadiran buku ini untuk mengeksplornya dengan seksama. Banyak juga ilustrasi dengan disain yang modern dan apik menghiasi buku ini. Pilihan warnanya juga sangat nyaman di mata.

Tak lupa pula, kamu akan selalu diingatkan di bagian akhir bab terkait dengan istilah-istilah baru yang kamu pahami karena memang di buku ini kita benar-benar melangkah ke dunia yang benar-benar baru. There’s no accounting anymore neither do financial statements.

Dan bagian yang pneting dari buku ini, bahasa yang digunakan sangat sederhana sehingga para awam pun akan mudah mencernanya. Prof. Rhenald Kasali benar-benar mengharapkan bukunya bisa membuat seluruh orang berhasil paham di era #MO ini. Bab-bab yang seharusnya sangat sulit dimengerti apalagi yang belum memiliki ilmu yang mendukung ternyata dapat dengan mudah dicerna karena beliau menyertakan kasus untuk setiap topik yang ia bahas.

Quote Terbaik dari Buku #MO

Quote adalah sesuatu yang dapat kamu temukan di setiap akhir bab di buku ini. Semua quote-quote yang ada di buku ini benar-benar relevan dan mewakilkan setiap babnya. Berikut quote-quote yang saya rasa merupakan yang terbaik, antara lain:

1 “We can not solve our problems with the same thinking we used when we created them” (Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang sama seperti kita saat kita menciptakannya),

Albert Einstein

2 “You never change things by fighting the existing reality. To change something, build a new model that makes the existing model obsolete” (Kamu tidak akan bisa merubah sesuatu dengan melawan hal yang ada saat ini. Untuk merubah sesuatu, buatlah sebuah model baru yang membuat hal yang ada saat ini menjadi usang),

Buckminster Fuller

3 “If you wan’t something new, you have to stop doing something old” (Jika kamu ingin sesuatu yang baru, kamu harus berhenti melakukan sesuatu yang lama/kuno),

Peter Drucker

Ok, thats all. Itulah quote-quote terbaik dari buku ini. Tentu masih banyak quote lainnya yang tak kalah menarik tetapi saya rasa mereka lah yang benar-benar menyihir.

Rating Buku

Overall, saya sangat puas dengan buku ini dan akan sangat menantikan karya lainnya dalam series on disruption milik Pak Rhenald Kasali. Karena siapa yang tidak ingin belajar sesuatu langsung dari ahlinya, beliau bisa dikatakan sebagai bapaknya ilmu disrupsi ekonomi di Indonesia.

So, my rating is 4,5/5

Resensi ini dibuat oleh Heru Yulian pada 31 Juli 2020, sumber asli bisa dilihat disini.

Leave a Reply