Top News

Korban Tagar

Posted by: melati 07/06/2021 No Comments
tagar

Revolusi industri 4.0, begitulah era ini sering disebut. Tahun 2000-an membawa banyak perubahan signifikan dalam kehidupan manusia. Contoh yang paling mudah adalah penggunaan telepon genggam. Cobalah berdiri di tengah keramaian, akan terlihat hamper semua orang sibuk dengan, atau setidaknya menggenggam, handphone. Tampak seperti perpanjangan lengan saja. Keluar rumah tanpa membawa handphone kadang lebih membuat panik daripada lupa tak bawa dompet. Sehari saja tak mengecek pesan masuk ataupun media sosial rasanya seperti ada yang kurang.

Perubahan lain yang cukup terlihat adalah munculnya jaringan – jaringan usaha online. Semua serba mudah melalui satu sentuhan di layar saja. Pasar mulai berkurang keramaiannya, pusat perbelanjaan pun tak lagi berdesakan seperti dulu. Memenuhi kebutuhan sehari – hari cukup dengan rebahan dan klik sana sini. Mudah dan cepat.

Fenomena ini bukan sekadar anggapan seadanya melainkan didukung dengan data statistik. Pada Januari 2020 tercatat ada sebanyak 175,4 juta pengguna internet di Indonesia dan 160 juta di antaranya adalah pengguna media sosial. Antara April 2019 sampai dengan Januari 2020 pengguna media sosial di Indonesia meningkat sebanyak 12 juta orang. 

Dengan lebih dari seratus juta pengguna internet dan media sosial, bisa dibayangkan derasnya arus pertukaran informasi. Beragam berita dan opini tersebar tanpa bisa dibendung, bahkan sering kali sulit dipastikan kebenarannya. Fakta dan hoax bercampur jadi satu. Sayangnya kondisi ini terkadang kurang dibarengi dengan kebijaksanaan bermedia sosial. Sharing dilakukan tanpa memastikan dulu kebenaran kabar yang dibawa. Sharing informasi secara masal seperti ini dapat membentuk opini masyarakat luas tentang suatu hal (shaping). Berdasarkan informasi yang  bisa saja tak lengkap dan sepihak, terbentuklah sebuah label atau vonis akan sesuatu atau seseorang.

tagar

Contoh paling mudah terjadi tahun 2019 lalu. Seorang anak SMP bernama Audrey diberitakan mengalami bullying oleh 12 orang anak SMA. Ia dikeroyok, ditendang, dirusak kemaluannya dan serentetan tindak penganiayaan lainnya. Netizen kaget dan geram. Beredarlah tagar #saveaudrey di mana – mana, bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter. Cerita tentang perlakuan kejam yang diterima Audrey berseliweran di Instagram dan Whatsapp. The power of netizen membuat kisah Audrey viral padahal hanya diawali dengan unggahan satu akun Twitter.

Tak berapa lama, arus dukungan berubah. Muncul tagar baru yang juga menjadi viral, #Audreyjugabersalah. Rupanya sebuah akun membagikan temuan baru tentang kasus Audrey yang membantah temuan sebelumnya. Audrey dianggap tak sepolos perkiraan awal, akun media sosialnya penuh kata – kata yang bagi masyarakat dianggap terlalu kasar untuk usianya. Tak juga ditemukan luka fisik pada tubuh Audrey, serta kejanggalan – kejanggalan lain yang mengikuti informasi baru ini.

Jangan gagal paham karena tagar

Lagi – lagi sharing besar – besaran terjadi. Namun, timbul suatu masalah baru. Terlanjur terjadi pembentukan opini (shaping) di masyarakat luas.Tanpa memeriksa cerita dari dua sisi, 12 orang anak SMA tersebut sudah dicap sebagai perundung. Wajah mereka tersebar dengan disertai narasi kemarahan berbagai pihak. Hukuman sosial sudah terlanjur mereka terima sebagai konsekuensi dari sharing dan shaping yang terburu – buru.

Dengan mengambil contoh tagar #saveorangutan, Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul #MO: Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham menulis bahwa tagar sukses menarik perhatian anak muda dan mereka mampu menggalang partisipasi dengan cara – cara baru. Bila sebelumnya bentuk partisipasi adalah turun ke jalan, melakukan protes serta demonstrasi, pada era yang serba terkoneksi ini dukungan ditunjukan dengan menyebarluaskan tagar (sharing) serta mengikutsertakan foto dukungan.

Semua fenomena ini terjadi dalam zaman baru di mana hidup serba terdigitalisasi. Kemudahan teknologi membuat laju informasi sulit dikendalikan. Maka betul peringatan di awal pemutaran film, viewer discrestion is adviced. Sehingga keputusan menyebarkan sesuatu setidaknya sudah melalui proses pengambilan keputusan secara sadar dan bijaksana.

Author: melati

Leave a Reply

×