FESTIVAL KERAGAMAN : “NUTRISI KERAGAMAN” MILENIAL INDONESIA.

Roadshow Festival Keragaman yang berlangsung di Lo.Ka.Si Coffee & Space, Bandung, 14 Desember 2018 kemarin meninggalkan cerita menarik tentang keragaman Indonesia. Acara yang digelar oleh Penerbit Exposé (Mizan Group), PPIM UIN Jakarta, dan Convey Indonesia ini mempertemukan tokoh-tokoh lintas agama dengan generasi milenial dari komunitas Jakatarub, Bhinneka, Peacegen, YIPC, para pelajar dan guru dari beberapa SMA di kota Bandung.

Festival ini mendiskusikan dua buku terbaru hasil kolaborasi Penerbit Exposé dengan PPIM UIN Jakarta dan Convey Indonesia, yakni Meyakini Menghargai dan Merayakan Keragaman. Taufiq MR, redaktur Exposé, di sela-sela acara menyampaikan, “kedua buku ini didesain khusus untuk generasi milenial Indonesia. Bahasanya sengaja dibikin ringan dan mengalir, kemasannya chic dan eye-catching untuk mengundang selera baca anak-anak milenial.”

Pembicara (dari ki-ka), Engkus Ruswana Agama Lokal, Fam Kiun Fat Wakil Ketua MAKIN Bandung, Ketut Wiguna Pendidik Agama Hindu Pasraman Widya Dharma.

Para pembicara lintas agama, I Ketut Wiguna (Hindu), Fam Kiun Fat (Khonghucu), dan Engkus Ruswana (agama lokal Sunda Wiwitan) sangat antusias dengan isi dan kemasan buku ini. Mereka menganggap buku ini mampu memotret warna-warni keragaman Indonesia secara berimbang, indah, dan menarik. Buku seperti ini diperlukan remaja. Buku ini juga terbit pada momen yang tepat menjelang hajatan politik dan kian maraknya isu-isu hoax dan sikap intoleran yang membayang-bayangi masyarakat.

 

“Nutrisi Keragaman” Milenial Indonesia

Tak bisa dimungkiri, Indonesia adalah negeri paling majemuk di dunia. Indonesia dihuni 1340 suku bangsa, memiliki 742 bahasa, ada 6 Agama Resmi dan 187 Penghayat Kepercayaan atau agama lokal. Terlalu majemuk bukan? Wajarlah jika ada yang berpikir bahwa keragaman yang sangat tinggi ini menyimpan potensi disintegrasi yang juga sangat tinggi. Apalagi Indonesia bukan negara daratan, melainkan negara kepulauan yang dipisahkan oleh lautan yang luas.

Namun, kekuatiran itu menjelma ketakjuban ketika Anda membaca kedua buku terbaru tersebut. Kita akan menemukan keajaiban dari kemajemukan Indonesia pada halaman-halaman awal buku Meyakini Menghargai. Kita disajikan banyak fakta yang semuanya menyimpulkan betapa ajaibnya Indonesia. Bayangkan, Eropa merupakan daratan, tetapi mereka “terpecah” menjadi 50 negara.

Di belahan lain, mereka hidup di satu daratan yang luas, dengan satu bahasa, satu agama, tapi terus bertikai dan berperang sampai hari ini. Timur Tengah misalnya. Menariknya, dibandingkan Eropa dan Timur Tengah, kemajemukan Indonesia lebih kompleks, tetapi negeri ini tetap bertahan dan nyaris tidak ada ancaman disintegrasi yang serius. Artinya keragaman atau kemajemukan itu bukan pemecah, malahan pemersatu.

Ibarat orkestra, kemajemukan itu menciptakan simfoni yang indah, yang bisa dinikmati kemerduannya bersama-sama.  Itulah message besar yang hendak disampaikan kedua buku yang dikemas secara menarik dan popular ini.

Toleransi bagi Millenial

Salah satu peserta milenial Festival Keragaman bernama Erwin menyatakan, “Saat ini, toleransi tidak cukup hanya di level pengetahuan dan seruan agama saja, tapi mesti dibuktikan dengan interaksi yang riil di antara anak-anak milenial sendiri. Ketika saya pernah dikirimi pesan atau foto-foto yang menghargai perayaan agama saya dari teman yang berbeda agama, seketika itu pula saya merasakan inilah toleransi, inilah keragaman yang nyata itu.”

(Dari ki-ka), Ketut Wiguna Pendidik Agama Hindu Pasraman Widya Dharma, Engkus Ruswana Agama Lokal, Nenden Hendarsih penulis Buku Meyakini Menghargai, Fam Kiun Fat Wakil Ketua MAKIN Bandung, Taufiq MR Redaktur Expose, Gangsar Sukrisno CEO MAP.

Kedua buku yang ditulis oleh Nenden Hendarsih dan Ibn Ghifarie ini merupakan bagian dari rangkaian penerbitan buku Seri Literasi Agama untuk Remaja. Buku-buku ini nantinya akan menjadi nutrisi keragaman bagi generasi milenial Indonesia. Isi dan penyajiannya disesuaikan dengan citarasa milenial. Penggunaan narator-milenial dengan melibatkan karakter setiap pemeluk agama membuat penyajian materi dalam buku ini terasa unik, menarik, dan mudah dimengerti. Pembaca akan mengetahui ajaran, konsep ketuhanan, kitab suci, hari raya masing-masing agama dan aliran kepercayaan secara popular. Untuk memancing selera baca generasi milenial, buku ini dilengkapi ilustrasi dan foto-foto menarik, serta dilengkapi dengan aplikasi virtual reality UID360 yang berisi wisata religi, yang nantinya bisa diunduh di Google Playstore secara gratis sehingga membuat buku ini semakin asyik dinikmati.

Buku ini bagaikan oase bagi semua pemeluk agama: satu buku untuk semua agama. Seorang pemeluk agama tidak hanya mengetahui agamanya saja, tapi juga dapat mengetahui agama dan aliran kepercayaan lain. Hanya dengan mengetahui agama lain akan muncul rasa empati dan saling menghargai. Harapan kami akan tercapai cita-cita #MeyakiniMenghargai dalam Keragaman Indonesia.

Salam BerAGAMA

Leave a Reply