Yudi Latif

Korona yudi latif
Hitam Putih Korona

Refleksi dari Yudi Latif Pada Oktober 1347, dua belas kapal dagang Genoa berlabuh di pelabuhan Messina, Sisilia, setelah menempuh pelayaran panjang mengarungi Laut Hitam. Banyak pelaut di kapal itu meninggal dengan sekujur tubuh ditaburi gelembung hitam; membuat wabah penyakit itu disebut “Maut Hitam” (Black Death). Otoritas Sisilia terlambat mencegah kapal itu berlabuh. Akibatnya, selama lima...

teropong kebenaran
Yudi Latif : Bintang Kebenaran

Refleksi Yudi Latif Makrifat Pagi Saudaraku, kebenaran itu seperti bintang-bintang yang tak bisa dilihat kecuali di gelap malam. Dalam rutinitas terang, perhatian manusia tertawan penampakan kasatmata. Nilai-nilai tak benda dipandang sebelah mata sebagai pelengkap penderita. Saat gelap menyelimuti bumi, kemegahan sosok fisik pudar dari pandangan, barulah manusia mendongakkan wajah ke langit, mendamba cahya bintang. Di...

elang yudi latif
Refleksi Yudi Latif: Elang Pejuang

Semua burung mencari tempat berlindung saat hujan. Tak demikian dengan sang pejuang. Elang menghindari hujan dengan terbang di atas awan. Mencari Elang di Negeri ini Dimanakah elang berhibernasi di negeri ini? Mencarinya keempat penjuru mata angin, yang tampak terlihat hanyalah burung-burung yang suka berkicau menjambul saat cuaca cerah, namun segera mendekam saat mendung mengepung. Bagaimana...

Tahun Baru
Renungan Tahun Baru: Warsa Kuasa Cinta

Makrifat Pagi dari Yudi Latif Tahun baru sepatutnya ajang kelahiran ulang semua orang. Bunyi bel dan terompet malam pergantian menandai ritus peralihan: mengeluarkan yang buruk ke masa lalu, memasukan yang baik ke masa depan. Dalam menyikapi yang lama dan yang baru, ada dua jenis kebebalan yang harus dihindari. Seseorang berkata, “Ini tua, oleh karena itu...

Yudi Latif negara
Yudi Latif: Waspada Keselamatan Negara

Menjawab Tantangan Indonesia Maju yang Berkarakter dan Bersatu Tahun depan, negara Indonesia merdeka genap berusia 75 tahun. Pengujung generasi ketiga dalam siklus keberlangsungan entitas kuasa. Setiap tiga generasi berlalu, nubuat Ibn Khaldun memperkirakan titik ini sebagai momen rawan bencana, yang bisa mengancam daya sintas negara. Pada momen ini, menurut dia, solidaritas bersama terancam pudar. Para...

×