Self Driving: Menjadi Tegas atau Agresif?

Posted by: melati 19/03/2018 1 Comment
Rhenald Kasali Self Driving

Pernahkah mendengar kata Assertive? Tahukah maknanya? Apakah perbedaan dari Tegas dan Agresif? Dalam buku Self Driving, Prof.Rhenald Kasali memberikan kisi-kisi mengenai Assertiveness, yang ternyata berhubungan dengan pembentukan mental #driver.

Nukilan dari Rhenald Kasali

Saya pernah mendapat kiriman sebuah film pendek dari teman saya. Di situ, tergambar seorang kru sedang menegur penumpang yang masih memakai ponsel di dalam pesawat. Pria itu mohon-mohon waktu beberapa detik karena darurat. Tetapi kru tak peduli, ponsel diambil dan dicemplungkan ke dalam gelas kopi. Dan ia pun beranjak pergi. Film itu ditutup sebuah pesan: Be assertive, or you loose customers!

Dalam kamus, kata assertive diartikan tegas dan assertiveness adalah ketegasan. Namun sebenarnya, assertiveness adalah sebuah training tentang keberanian menyatakan apa yang dipikirkan atau dirasakan secara jujur dan terbuka tanpa mengganggu hubungan. Assertiveness tak dapat disebarkan tanpa latihan, itu sebabnya harus ada dalam kurikulum sekolah dan diajarkan.

Celakanya, “tegas” di sini sering diartikan sebagai perilaku yang garang. Tengoklah pendapat-pendapat tentang kepala negara yang sering kita dengar, “Presiden tidak decisive, tidak tegas.” Tetapi tengoklah bagaimana mereka menyampaikannya. Semua itu disampaikan dengan nada tinggi, sangat garang. Agresif.

Di jalanan Jakarta, ribuan caci-maki juga semakin sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak sabar. Sepeda motor begitu mudah membunyikan “klakson amarah” hanya karena kendaraan lain kurang sigap memacu kecepatan.

Hal serupa juga sering kita saksikan di check in counter di bandara. Orang-orang yang tak berbudaya, merapat ke depan tanpa menghormati antrean, dan petugas membiarkannya, bahkan melayaninya. Di satu pihak, ada kelompok agresif, di lain pihak ada kelompok yang susah bilang “tidak”. Jadilah kekacauan.

“Di Thailand, assertiveness diajarkan di sekolah-sekolah sebagai wadah pembentuk karakter dan kepribadian.”

Di banyak negara maju, pemerintah tidak hanya mengurus pertahanan-keamanan dan kesejahteraan saja, melainkan juga kebudayaan. Kebudayaan bukan sekadar seni pertunjukan atau ekonomi kreatif, melainkan bagaimana masyarakat saling mengikat diri, membentuk spirit kesatuan. Dan tanpa assertiveness, ikatan pun pupus. Assertiveness ditanam sejak usia dini dan dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahun 1989, masyarakat Jepang digemparkan oleh buku “Japan That Can Say No” (“No” to reru nihon) yang ditulis pemimpin senior LDP, Shintaro Ishihara, bersama almarhum pendiri Sony, Akio Morita. Pasalnya, orang-orang Jepang terlalu mendiamkan dan susah bilang “tidak”, sehingga mudah didikte Barat, dan kalau antreannya diserobot ya mereka diam saja. Pada 1996, buku serupa ditulis di China: China Can Say No.

Orang-orang yang pasif terlalu toleran terhadap maunya orang lain. Tetapi mereka tidak menghormati dirinya sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang agresif memicu konflik. Kalau gilirannya diserobot, mereka rela berkelahi dan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan martabat orang lain. Ia terlalu respek terhadap dirinya sendiri dan tak mengubah perilaku buruk masyarakat.

Assertiveness sebagai karakter Self Driving

Di tengah-tengah, ada kelompok pasif-agresif yang sarkastis. Tidak terima diserobot, tetapi tidak berani menegur atau memperbaiki cara-cara yang tidak tepat. Ngomongnya kasar, sinis, tetapi tidak di depan orang yang bersangkutan. Gerundelnya di belakang, beraninya hanya pada lantai, atau dinding, atau pada teman-teman lewat gosip atau social media dengan nama samaran.

Di Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Skandinavia, juga di Thailand, assertiveness diajarkan di sekolah-sekolah sebagai wadah pembentuk karakter dan kepribadian. Dengan bekal assertiveness, bawahan tidak akan membiarkan atasannya korupsi. Bahkan di kampus sekalipun, dosen-dosen yang tidak memiliki assertiveness membiarkan rektornya korupsi. Paling-paling hanya gerundel di belakang. Sedangkan mereka yang berani berbicara terlalu keras. Akibatnya, kampus hanya maju dari segi gedung-gedung yang tumbuh cepat, padahal di balik itu terjadi pembiaran dan perusakan.

Author: melati

Leave a Reply

1 Comment

×