Reinventing : Merawat Energi, Menatap Masa Depan

Resensi buku Reinventing, Semua berawal  dari Energi karya Rhenald Kasali 

Energi memicu terjadinya banyak perubahan di bumi kita. Perubahan geopolitik, perubahan perilaku umat manusia, mobilitas kita, dan masih banyak lagi. Ia mengubah wajah dunia dan penghuninya.

Energi juga menentukan perkembangan peradaban untuk manusia. Negara yang memiliki kecukupan energi (seperti minyak mentah, gas, atau batu bara) akan lebih maju dan sejahtera ketimbang negara-negara yang terbatas pasokan energinya. Mari kita lihat sejumlah negara di sub-sahara Afrika. Keterbatasan energi membuat negara-negara tersebut tertinggal jauh di belakang dan rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Bandingkan dengan negara-negara yang pasokan energinya berlimpah, seperti AS, Eropa, atau Jepang.

China kini menjadi negara maju karena berhasil memasok energi bagi kebutuhan industri manufakturnya. Bahkan China menjadikan pembangunan energi sebagai landasan kebijakan politik luar negerinya. Mereka ekspansi hingga ke Afrika untuk mencari sumber-sumber energi guna mengamankan kebutuhan dalam negerinya dan menjamin mesin-mesin industrinya tetap berputar kencang tanpa gangguan.

Perubahan besar-besaran di China, juga India, pula yang menyebabkan tatanan geopolitik berubah. China berhasil mengubah poros ekonomi dunia bergeser dari kawasan Atlantik ke Pasifik, dari Eropa dan AS ke Asia.

Di sisi lain, negara kita memang berada di ambang krisis energi. Jika tidak ada temuan baru, maka cadangan minyak hanya cukup untuk sepuluh tahun ke depan. Cadangan gas mungkin bisa 30-an tahun lagi. Cadangan batu bara kita, meski sangat polutif, mungkin masih cukup untuk 50-an tahun lagi. Tapi, 10 tahun, 30, atau 50 tahun ke depan bukanlah waktu  yang lama untuk membangun fondasi guna memberdayakan seluruh sumber daya energi yang kita miliki. Ini agar jangan sampai kita masuk dalam perangkap krisis energi.

***

Pada awal 1970-an kita menemukan cadangan gas alam yang luar biasa besar di Arun, Aceh. Volumenya mencapai 17,1 triliun kaki kubik (trillion cubic feet, tcf). Sebagai perbandingan, sampai dengan akhir 2013, cadangan gas terbukti (proven reserve) kita adalah 103,3 tcf. PT Arun NGL, yang mengelola ladang gas alam tersebut, kemudian dikenal sebagai eksportir LNG terbesar di dunia.

Berkat temuan gas alam tersebut, negara kita kemudian juga dikenal menjadi pelopor pengembangan gas alam cair (Liquified Natural Gas, LNG) di dunia. Reputasi itu semakin kuat setelah kita juga menemukan cadangan gas alam dalam jumlah besar di Muara Badak, Kalimantan Timur.

Penemuan dua cadangan gas alam itu membuat kita seakan-akan kebanjiran energi. Lalu, kita memanjakan rakyat dengan harga energi, minyak, dan gas, yang murah. Rakyat kita pun terlena. Bagi penulis, ini kekeliruan pertama. (hlm. 11)

Kekeliruan kedua, kita tidak mengelola dengan benar penerimaan dari sumber daya alam tersebut. Misalnya, rezeki dari minyak dan gas ternyata tidak kita investasikan kembali untuk mengembangkan industri migas, termasuk membangun infrastrukturnya. Akibatnya, infrastruktur migas kita kini tertinggal. Contohnya, kilang minyak pertama kita bangun pada tahun 1974. Lalu, kilang terakhir yang kita bangun adalah Kilang Balongan di Indramayu pada 1994. Setelah itu, selama 20 tahun lebih kita tak pernah lagi membangun kilang minyak.

buku Reinventing

 

Buku ini berisi pengalaman penulis mengunjungi PT Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur yang sedang melakukan program transformasi. Badak NGL berdiri 24 November 1974 dengan kiriman kargo LNG pertamanya pada 1977. (hlm. 224)

Sekitar tahun 2006, ada orang Indonesia yang bekerja di Cegelec, perusahaan minyak asal Perancis. Ketika berkunjung ke Badak LNG, pekerja ini terperangah dengan sistem kerja, standar operasi, disiplin, dan kemampuan SDM Badak LNG dalam menangani masalah-masalah operasional kilang. (hlm. 49)

Hal semacam ini tak dimiliki oleh semua kilang LNG, termasuk yang ada di mancanegara sekalipun. Kinerja yang seperti ini tentu layak ‘dijual’ ke luar. Pertimbangannya bukan melulu bisnis, tetapi juga untuk meningkatkan kinerja industri LNG dunia.

Ketika itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan berkunjung ke Bontang. (hlm. 46) Dahlan langsung semringah. Ia bangga. Sebab selama ini Indonesia dikenal sebagai pemasok tenaga kerja ke luar negeri, tapi bukan untuk tenaga terampil. Kebanyakan hanya pembantu rumah tangga. Kali ini lain. Jadi posisinya sudah berbeda. []

Peresensi : Fatoni Prabowo Habibi
Bergiat sebagai Pimpinan Umum LPM Al-Mizan dan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Pekalongan.
Dimuat di www.takanta.id pada 14  April 2018
 

Leave a Reply