Good Driver

Be A Good Driver

Di Indonesia, tanpa kita sadari ada sebuah budaya mengasuh anak dengan proteksi. Tetapi tradisi memproteksi anak-anak yang berlebihan, yang terus dibawa hingga anak-anaknya dewasa bisa mengakibatkan kemampuan kaum muda dalam mengambil keputusan menjadi lumpuh, sehingga mereka tidak bisa menjadi good driver.

 

Mulanya anak-anak dibedong, lalu digendong dan dituntun. Setelah menikah, anak-anak diharapkan untuk tinggal bersama orang tua sampai memperoleh cucu.

Jangankan mengambil keputusan hidup, membeli baju sendiri saja harus dengan kesepakatan orangtua. Ini adalah salah satu penyebab utama yang mengakibatkan banyak kaum muda kalah dalam mengejar karier dan impiannya.

Menjadi Good Driver

Oleh karena itu amatlah penting untuk merubah mindset kita, terutama generasi muda. Tujuannya mendobrak mental passenger itu menjadi mental pengemudi atau driver, sehingga mereka menjadi lebih waspada, berinisiatif tinggi, berani mengambil langkah, lebih kreatif, dan lebih kritis.  

Sekarang kita menemukan kebanyakan pegawai telah di perlakukan sebagai passenger, bukan driver. Padahal kalau kita lihat hidup ini tidak flat, bergelombang. Contoh di perusahaan milik negara, pegawai mereka dengan segala fasilitas dan gaji, mereka nyaman dengan keadaan seperti itu, tidak ada motivasi untuk mengembangkan diri, cara berpikirnya “yang penting digaji, perusahaan bukan punya saya ini” akhirnya dirinya ya berakhir begitu-begitu saja.

Nah, tugas seorang atasan adalah merubah mentalitas passenger, jangan menumpang dalam perusahaan dan jangan menumpang dalam hidup ini. Apabila belum berhasil menjadi seorang driver, jadilah good passenger. Walau belum bisa berkarya tetapi good passenger tidak menjelekkan orang lain, tidak menyalahkan keadaan. Nah, inilah modal dasar jadi Good Driver.